Results 1 to 5 of 5

Thread: Tuhan dan Preman1436 days old

  1. #1
    -REPI-'s Avatar
    [ds2] Titanium Class

    Status
    Offline
    Join Date
    Oct 2012
    Posts
    207
    Gender

    Thanks
    0
    Thanked 7 Times in 6 Posts

    Achievements:
    Three Friends1000 Experience PointsVeteran

    Tuhan dan Preman

    ini adalah sebuah cerpen karya dari Desy Riani




    Sang waktu, si saksi bisu terus mengamatinya. Seorang pemuda bercelana komprang dengan sebatang rokok yang masih tersangkut pada kedua jarinya sedang bersandar pada tembok yang penuh cacat karena ulahnya.

    Senja enggan menjemput. Hujan pun enggan turun. Apalagi sang mentari, sedari tadi bersembunyi saja di balik awan. Aliran angin membelai lembut dedaunan. Selebihnya sunyi, hanya sepasang burung gereja yang bersuara.

    ***

    “Hufhss! Selalu saja harus berakhir seperti ini,” keluh pemuda itu sambil menginjak puntung rokoknya.

    Tidak ada pekerjaan yang sanggup bertahan di kedua tangannya. Tidak ada agama yang sanggup melekat erat pada hatinya. Dia dididik bukan untuk menjadi seorang pemuka agama A,pemuka agama B, atau pemuka agama lainnya. Dia dibesarkan untuk menjadi preman.

    ‘Nah, ini dia!’ hatinya mendadak girang. Seorang lelaki tua sedang berjalan ke arahnya. Ia tak ingin melewatkan ini, sasaran seperti akan berakhir mudah, segera ia menghambur pada lelaki tua.

    “Pak tua, serahkan uangmu atau kau akan mati dengan sia-sia di tempat ini!”

    Lelaki tua itu tak mampu bereaksi, tapi ekspresinya membuat pemuda itu tercengang.

    Lelaki tua itu hanya tersenyum pada sang preman yang kini sedang berdiri di hadapannya dengan sebilah pisau lipat hampir merobek perutnya. Kerutan pada wajahnya tak sedikit pun mengurangi nilai tulus senyumannya. ‘Orang gila!’ batin si pemuda preman.

    “Uang atau harta tak akan kau dapati padaku anak muda, aku tak punya apapun untuk kau rampas kecuali apa yang melekat pada tubuhku sekarang,” kata-kata lelaki tua itu terdengar tenang, membuat pemuda itu merasa diremehkan.

    “Ah, jadi kau miskin?” keluh pemuda itu, tak ada apa-apa yang bisa diambilnya dari lelaki tua itu, “Kalau begitu buat apa kau berkeliaran tanpa uang yang menyertaimu?”

    “Alasannya sama denganmu, hanya nasib kita saja yang berbeda.”

    “Persetan dengan nasib!”

    ***

    Tanpa disadari, kedua lelaki beda usia itu menyusuri jalan beriringan. Trotoar tanpa pejalan kaki membuat mereka tertarik untuk mengistirahatkan kaki sejenak. Saling membisukan dan sesekali beradu pandang.

    “Jadi kau seorang gelandangan?” si pemuda bertanya sambil terkekeh, ”Hah! Payah kau pak tua..”

    “Apa bedanya denganmu? Kau sama saja denganku!”

    “Mungkin kalau Tuhan itu benar-benar ada, aku tidak akan hidup seperti ini.”

    “Tuhan benar-benar ada,” sahut lelaki tua, “Kalau tidak, pasti aku sudah mati di tanganmu.”

    Lelaki tua itu diam sejenak. Matanya menerawang jauh menembus awan jingga yang semakin berkilau di ufuk barat. Wajahnya yang diterpa sinar keemasan, tampak semakin bersahaja. Bagai dewa yang baru menyelesaikan pertapanya.

    “Apa kau tahu dimana Tuhan itu berada? Seperti apa Dia?”

    “Tuhan ada disini,” ujar lelaki tua itu sambil mendaratkan telunjuknya tepat di dada sang preman.

    “Ah, kau tak perlu bercanda pak tua! Tunjukan saja kalau kau tahu dimana Dia!”

    Lelaki tua tampak menarik nafas dalam-dalam. Semakin dalam, semakin tenang. Lebih tenang dari beribu-ribu narkotika. Oksigen telah memenuhi paru-parunya. Setelah bertahan beberapa detik, saatnya karbon diokasida itu meluncur melewati bibir hitamnya. Meluncur cepat di wajah sang preman.

    “Apa yang kau rasakan anak muda?”

    “Hanya angin yang membawa bau nafasmu! Kau jangan membuatku marah pak tua!” pemuda itu merasa kesal.

    “Kau bisa merasakannya?”

    “Tentu saja!” pemuda itu masih mengibas-ngibas udara dihadapan hidungnya. Tingkahnya membuat lelaki tua tersenyum.

    “Seperti itulah keberadaan Tuhan anak muda, tidak berwujud akan tetapi bisa dirasakan! sebenarnya kau telah memiliki Tuhan dalam hatimu. Hanya saja, kau menutup rapat-ratap dan menolak kehadiran Dia!”

    Pemuda itu diam. Ia masih belum mengerti kata-kata lelaki tua.

    ***

    Gelap malam menyelimuti tubuh dua lelaki beda usia. Beralas butiran pasir dan berbantal batu bata tak mampu mencegah tubuh mereka yang meronta ingin diistirahatkan. Saat sepasang mata terpejam, sepasang mata lagi masih menyusuri setiap jengkal langit. Bintang-bintang tak satupun yang nampak.

    “Kenapa kau tak tidur? Apa yang kau pikirkan?”

    Suara yang datang tiba-tiba, sontak membuyarkan misi pencarian bintang yang tersembunyi di balik awan-awan kelam.

    “Kenapa Tuhan menciptakan aku dalam keadaan seperti ini?”

    “Kau tak bisa memilih dimana dan dalam keadaan seperti apa kau dilahirkan, tapi kau bisa memilih cara hidup seperti apa yang ingin kau lakukan, dan menentukan masa depan seperti apa yang ingin kau raih, Tuhan meletakkan banyak pilihan didunia ini.”

    “Aku bisa memilih? Memilih apa?” tanya pemuda dalam tatapannya yang tetap ke langit, ”Kalau memang aku bisa memilih, kenapa aku tidak bisa paling tidak hidup normal saja, rasanya pilihan yang ada padaku memang hanya jadi preman!”

    “Kau berpikir tak ada cara lain kecuali menodongkan pisaumu pada orang-orang, atau mengambil dari mereka diam-diam.”

    “Aku bosan melakukan itu! Tapi selalu tak ada cara untuk menenangkan perutku, kecuali dengan cara itu!”

    “Kau pernah berpikir, orang yang kau todongkan pisau tiba-tiba melumpuhkanmu dan dia yang berbalik menikammu?”

    “Kadang aku takut! Tapi aku tak pernah melihat ada pilihan lain.”

    “Ada, kau hanya tak pernah ingin mencobanya!”

    “Kau bicara seperti mudah saja, kau sendiri gelandangan!”

    “Kau tak ingin sepertiku bukan?”

    “Tentu saja tidak!”

    “Setiap saat Tuhan mengulurkan tangan ingin menolongmu! Hanya saja aku menyadari itu ketika ototku sudah mengendur dan tua,” suara laki-laki tua terdengar parau, ”Aku tak seberuntung kau, anak muda!”

    “Apa maksudmu aku beruntung?”

    “Aku tak pernah bertemu dengan seseorang yang membawaku pada uluran tangan Tuhan, aku menemukannya sendiri, sudah terlambat, tapi aku merasa sangat bahagia…” lelaki tua diam sejenak, “Memang kaulah yang harus menolong dirimu sendiri, tapi Tuhan takkan tinggal diam pada setiap hal yang kau lakukan!”

    Pemuda itu terdiam.

    “Kau bebas memilih untuk menjadi atau melakukan apapun, tapi selalu ada resiko yang menjadi pasangan setia setiap pilihan, dan itu tak bisa dipisahkan! Bahkan, ketika kau memutuskan untuk tak memilih apa pun, tetap ada resikonya.”

    “Tak memilih pun ada resikonya?”


    “Ya, resikonya adalah kau takkan pernah bisa memilih, lebih menyedihkan lagi, kau takkan bisa melakukan apa-apa!”

    “Kau menjadi preman karena pilihanmu sendiri, tapi kau bisa berubah mulai detik ini, asal kau mengijinkan Dia masuk dalam hatimu,” lelaki tua itu kembali mendaratkan telunjuknya tepat di dada sang preman. “Dia akan menuntunmu memilih yang benar…”

    Ocehan lelaki tua itu seperti air yang mengalir memenuhi pori-pori tanah yang telah ribuan tahun mengering. Pemuda itu pasrah saja, membiarkannya meresap kedalam hatinya, ia tak ingin melawan, karena merasakan alunan kesyahduan yang tiba-tiba tak ingin dilepasnya. Malam merangkak dalam belaian yang sempurna. Tak pernah ditemuinya perasaan sedamai ini…

    ***

    Pagi menyuguhkan kisah yang berbeda. Ada kejutan yang sama sekali tak terpikir oleh sang preman itu. Embun enggan menetes. Sinar mentari tak mampu menghangatkan suhu udara yang semakin menurun.

    Ditatapnya tubuh lelaki tua yang semalaman berbincang dengannya. Tubuh itu meringkuk kaku. Sangat kaku. Wajahnya pucat membiru.

    “Ini takdirmu pak tua! Ajal telah menjemputmu tanpa permisi padaku, aku memang seorang preman, perampas hak orang, tapi kini aku akan memberikan yang terbaik yang pernah aku miliki, aku akan menguburkanmu secara layak.”

    Tubuh yang tidak kekar itu kepayahan membawa jasad lelaki tua menuju bukit berbatu. Alas kaki yang tak layak pakai itu telah meloloskan kerikil-kerikil tajam pada telapak kakinya. Merah….darah itu mewarnai setiap pijakan kemana kaki itu melangkah. Dia hanya ingin membawa jasad itu ke tempat tertinggi agar ruh lelaki tua yang tak sampai semalam bersamanya itu lebih dekat dengan surga. Surga tempat Tuhan berada.

    “Terima kasih pak tua, kau telah memperbaharui hidupku. Biarlah kehidupanku yang lama ikut terkubur bersama jasadmu. “

    Sang waktu, si saksi bisu terus mengamatinya. Seorang pemuda dengan kaki penuh luka, berlutut di dekat gundukan tanah. Matanya menerawang menembus cakrawala. Dedaunan menari-nari menyambut semangat baru.

    Sang preman berjalan lebih gagah dari sebelumnya. Dia mampu melangkahkan kakinya dengan pasti. Matanya berbinar dengan berjuta harapan yang membara, membakar semangat yang ada untuk kehidupan yang lebih baik.



    DuniaSex Episode-2
    Yacht | "Let's Cruise To Fantasy Community"

    Keep Enjoying the Cruise

  2. The Following 2 Users Say Thank You to -REPI- For This Useful Post:

    cacing_imut (02-01-2013),Marc23 (02-01-2013)

  3. #2
    cacing_imut's Avatar
    [ds2] C A D E T

    Status
    Offline
    Join Date
    Oct 2012
    Location
    Diantara Surga & Neraka
    Posts
    2,104
    Gender

    Thanks
    370
    Thanked 389 Times in 107 Posts

    Achievements:
    Three FriendsTagger Second ClassRecommendation Second Class10000 Experience PointsVeteran

    Re: Tuhan dan Preman

    kalau nonton sinetron hidayah mungkin inilah artinya sama dengan kisah ini
    meyakini sesuatu yang tak bisa kita lihat itulah Iman
    semakin kuat kita beriman maka semakin kuat kita meyakininya tanpa harus melihatnya

    nice share banget suhu, thanks...
    Saya hanya seorang fotographer mesum.
    yang mencari dan mengabadikan keindahan
    dengan cara saya sendiri

  4. #3
    doyo's Avatar
    [ds2] C A D E T

    Status
    Offline
    Join Date
    Nov 2012
    Location
    jakarta
    Posts
    1,589
    Gender

    Thanks
    22
    Thanked 36 Times in 23 Posts

    Achievements:
    Three Friends1000 Experience PointsRecommendation Second Class1 year registered

    Re: Tuhan dan Preman

    Sangat menyentuh n bikin ane terharu om Repi.
    DuniaSex Episode-2
    Yacht | "Let's Cruise To Fantasy Community"

    Keep Enjoying the Cruise

  5. #4
    Caiborg18's Avatar
    [ds2] Gold Class

    Status
    Offline
    Join Date
    Dec 2012
    Location
    Surabaya
    Age
    27
    Posts
    154
    Gender

    Thanks
    11
    Thanked 6 Times in 4 Posts

    Achievements:
    Three Friends1000 Experience PointsVeteran

    Re: Tuhan dan Preman

    semoga si preman sadar,dan lebih bersikap sopan saat menodong,paling ngga bisa ucapin kata tolong
    DuniaSex Episode-2
    Yacht | "Let's Cruise To Fantasy Community"

    Keep Enjoying the Cruise

  6. #5
    tearamisu's Avatar
    [ds2] Silver Class

    Status
    Offline
    Join Date
    Jan 2013
    Posts
    39
    Gender

    Thanks
    15
    Thanked 5 Times in 1 Post

    Achievements:
    Three Friends3 months registered500 Experience Points

    Re: Tuhan dan Preman

    manusia dikasih pilihan, cuma kadang manusia lebih suka memilih yang menurut dia untung dan enak buat dirinya, bukan memilih hal yang baik buat dirinya
    DuniaSex Episode-2
    Yacht | "Let's Cruise To Fantasy Community"

    Keep Enjoying the Cruise

Bookmarks

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •