Lakukan apa yang kita cintai, dan cintailah apa yang kita lakukan. Dengan semangat itu, kita akan menjadi climbers sejati yang mampu menghadapi segala rintangan.

Ketika kita kecil, remaja, hingga, dewasa, barangkali ada sebagian di antara kita yang sudah merasa mendapatkan apa yang diinginkan. Tapi, ada juga kalanya, kita justru merasa belum mendapat apa yang diidam-idamkan. Tentu, apa pun yang telah kita dapat saat ini, harus tetap disyukuri. Sebab, dengan cara itulah, kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan, yakni kemenangan sejati.

Jika merasa belum menemukan hal apa yang sesuai dengan keinginan dalam diri, teruslah mencari. Tetapi, bila memang belum menemukan juga, cobalah berusaha untuk mencintai apa yang sudah dilakukan saat ini. Sebab, dengan rasa cinta itulah, kita akan mendapatkan banyak nikmat dalam apa yang kita kerjakan. Seperti apa yang sudah ditularkan dari semangat Sang Panglima Perang Sun Tzu yang menuliskan pemikirannya dalam 13 Kitab Strategi Perang Sun Tzu. Apa yang sudah diungkapnya lebih dari 2500 tahun silam itu bisa dikatakan merupakan buah kecintaannya pada bidang yang dikuasai.

Terlahir dari keluarga militer - di mana zaman itu memang didominasi oleh kekuatan militer - Sun Tzu dari kecil sudah memperdalam dunia militer. Dari sanalah, ia menjadi pribadi yang mencintai dunia militer. Namun, bukan berarti dia menyukai peperangan. Dalam kisahnya, Sun Tzu justru sebisa mungkin menghindari perang karena ia berprinsip bagaimana caranya sesedikit mungkin jatuh korban. Dari kecintaan dan sekaligus kepeduliannya itulah, ia berpikir dan sekaligus meretas karier di bidang militer hingga bertahun-tahun lamanya.

Dan, dengan pemikiran yang berbasis kecintaan dan pengalaman itulah, Sun Tzu berhasil membuat 13 Kitab Strategi Perang yang masih bertahan hingga kini. Itulah bukti nyata, bahwa apa yang dikerjakan dengan penuh cinta, akan menghasilkan karya luar biasa yang bahkan bertahan hingga melintasi batas zaman.

Begitu juga kita sebagai insan luar biasa. Barangkali, kita tumbuh dalam lingkungan yang berbeda-beda. Tapi, dengan semangat yang sama, yakni mencintai apa yang dilakukan, akan bisa menghasilkan kesuksesan yang luar biasa. Apalagi, jika berhasil memenuhi panggilan "lentera jiwa". Bisa dipastikan, apa pun yang dilakukan-tak peduli hasil akhirnya-pastilah memberi "kenikmatan" perjuangan mencapai apa yang didambakan.

Sudah banyak contoh pengusaha sukses dunia yang berangkat dari rasa cinta sehingga mampu mengubah dunia. Misalnya Bill Gates, yang dengan kecintaannya di dunia komputerisasi telah membuat Microsoft menjadi perusahaan piranti lunak paling sukses hingga kini.

Bukan hanya di dunia usaha. Bertahun-tahun silam, Columbus menemukan Benua Amerika karena ia memiliki tekad dan kecintaan yang mendalam pada dunia pelayaran. Ia berani menuntaskan "misi hidup"-nya demi menemukan benua Hindia, meski akhirnya justru "terdampar" di Benua Amerika. Begitu juga dengan tokoh dunia yang lain. Banyak orang yang demi kecintaan pada apa yang dilakukannya, telah menggoreskan tinta emas dan dikenang sebagai tokoh dunia.

Dengan kekuatan cinta inilah, kita sebenarnya bisa menjadi insan luar biasa yang mampu menggapai semua cita-cita. Yang perlu dilakukan adalah mengubah kecintaan itu sebagai dorongan untuk terus berupaya mencapai puncak, sebagai seorang the climbers sejati.

Untuk itu, kita harus mampu mengukur dan tahu persis, bidang apa yang benar-benar kita kuasai dan cintai. Bahkan, kalau perlu, teruslah mencari, apa yang paling pas di hati. Dari sana, kita bisa mengarahkan pada satu titik tujuan yang utama dan menggairahkan untuk dicapai.

Tentu, bukan sekadar cinta dan suka semata. Semua cita-cita yang didasarkan pada apa yang dicinta haruslah melalui tindakan nyata. Sebab, tanpa gerakan, tak kan ada hasil apa-apa. Tanpa tindakan, tak kan ada cita yang menjadi nyata. Seperti juga Sun Tzu yang ribuan tahun silam mengabdikan diri sepenuhnya pada dunia militer. Ia justru terus berupaya, agar dunia yang dicintainya, bisa meninggalkan "jejak karya" yang bukan sekadar catatan perang berdarah di sini sana. Tapi, ia merangkum strategi perang yang hingga kini mampu menjadi pedoman untuk berbagai kebijakan, bukan sekadar di dunia militer, namun justru lintas bidang yang multi manfaat.

Di sinilah letak kekuatan melakukan sesuatu yang dicintai, dan sekaligus mencintai apa yang dilakukan. Dengan kekuatan tersebut, seseorang bisa memelihara harapan dalam berbagai ujian dan tantangan yang menghadang. Semangat yang terus menyala, akan mengarahkan langkah kita menuju pada apa yang selalu kita nantikan. Gairah yang terus menggelora, akan menuntut kita mencapai apa yang didamba. Dan, seperti juga yang diungkap Sun Tzu dalam salah satu ajarannya, mengetahui kekuatan sendiri, berarti separuh kemenangan sudah di tangan. Maka, mencintai apa yang dilakukan dan mengetahui serta mengenali kekuatan sendiri, berarti telah mendekatkan pada separuh langkah menuju kemenangan.

Mari terus nyalakan "api cinta" pada apa yang kita kerjakan. Jangan menyerah untuk terus mencari dan menggali potensi dengan mengerahkan segenap kecintaan pada apa yang dilakukan. Sehingga, apa yang kita lakukan, akan mengantarkan diri mencapai puncak sukses yang luar biasa!