Kompetisi selalu muncul dalam berbagai wujud. Baik yang bersifat kompetisi langsung maupun tidak langsung. Ada pula yang bersifat sehat, tapi tak jarang pula yang sifatnya saling mematikan satu sama lain. Maka, ibarat peperangan, organisasi yang paling menguasai medan pertempuranlah yang akan menjadi pemenang.

Hal ini sejalan dengan apa yang dibahas dalam Bab 6 "Strategi Perang Sun Tzu" yang berbicara khusus tentang "Kekuatan dan Kelemahan Lawan". Dan, seperti prinsip yang dikumandangkan Panglima Perang Sun Tzu lebih dari 2500 tahun silam, maka perang haruslah berbuah kemenangan.

Dalam bab tersebut, analisis yang dilakukan Sun Tzu mencakup banyak hal. Tetapi, kali ini kita akan lebih mengutamakan pembahasan tentang kekuatan faktor pertama dan kekuatan fokus.

Dalam baris 6.1 disebutkan oleh Sun Tzu tentang kekuatan faktor bergerak pertama. Disebutkan oleh Sun Tzu bahwa orang-orang yang tiba pertama di medan pertempuran akan memiliki waktu yang cukup untuk beristirahat dan bersiap-siap untuk melawan musuh.

Hal ini sejalan dengan pengertian bisnis modern yang menyebutkan kekuatan sebuah produk yang masuk dalam kategori "the first". Mereka yang datang dengan inovasi pertama, produk pertama, layanan pertama, dan berbagai predikat sebagai yang pertama datang, akan menguasai medan pasar lebih baik dari yang datang belakangan.

Seperti contoh McDonald sebagai franchise burger pertama yang masuk ke Indonesia, hingga kini meski sudah digempur oleh merek franchise lain, Wendy\'s atau Burger King, McDonald seolah bergeming. Orang sudah mengasosiasikan burger asli Amerika dengan kualitas prima pastilah harus ke McDonald. Inilah yang membuat McDonald bertahan hingga sekarang.

Sebut pula misalnya Coca Cola. Sebagai minuman berkarbonasi pertama yang masuk ke Indonesia, posisinya hingga kini tak goyah oleh serbuan Pepsi Cola yang datang belakangan. Sebab, brand Coca Cola terlanjur menempel kuat di benak konsumen sebagai minuman ringan bersoda pertama yang masuk Indonesia

Begitulah, begitu kuatnya merek menancap di benak konsumen karena ia menjadi produk yang masuk dalam kategori yang pertama. Inilah salah satu alasan mengapa sebisa mungkin, untuk memenangkan persaingan, kita menciptakan inovasi yang pertama dan menjadikan poin tersebut sebagai keunggulan yang harus dipertahankan.

Namun memang, adakalanya, menjadi yang pertama sulit dilakukan. Sebab, begitu banyaknya penemuan, begitu banyaknya produk yang saling mengklaim sebagai yang pertama. Karena itu, jika tidak menjadi yang pertama, hal utama yang bisa dilakukan adalah dengan menjadi "the best" dan menciptakan nilai tambah berupa keunikan dan kemudian fokus dengan kekuatan tersebut.

Hal ini sejalan dengan apa nilai kedua yang akan kita bahas dari apa yang disebut oleh Sun Tzu dalam baris 6.26, yakni "Jika dapat memusatkan dan menyatukan semua kekuatan di satu tempat, sementara musuh terpencar di sepuluh tempat yang berbeda, maka kita dapat menggunakan seluruh kekuatan untuk melawan sepersepuluh pasukan."

Apa yang disebut oleh Sun Tzu dalam pengertian ini sejalan dengan pengertian saat ini tentang kekuatan fokus. Saat kita bisa fokus pada sebuah nilai tambah yang ada pada produk kita, dan kemudian memaksimalkannya sebagai kekuatan unggulan, niscaya produk kita akan menjadi pemenang dalam persaingan.

Contoh paling nyata dan aktual bisa kita lihat dari maraknya smartphone merek BlackBerry (BB). Ketika datang pertama kali, ponsel pintar di pasaran sudah sangat marak. Mulai dari Nokia yang memiliki varian Communicator hingga iPhone dari Apple yang juga memiliki keunggulan tersendiri. Tentu, dua merek tersebut tidak bisa juga memiliki keunggulan unik dibandingkan dengan merek lain dalam kategori smartphone.

Tapi, yang menarik kemudian adalah bagaimana BlackBerry lantas menggebrak pasar dengan inovasi yaitu komunikasi pesan pendek-semacam SMS-yang tak berbayar antar-BlackBerry. Hanya dengan menyebut nomor PIN masing-masing, maka antarpengguna BB bisa saling berkomunikasi tanpa mengeluarkan uang sepeser pun. Ini rupanya menjadi keunikan tersendiri pada produk BB yang kemudian dijadikan fokus nilai unggulan produk.

Hasilnya seperti yang kita ketahui, meski baru setahun belakangan marak, pengguna BB di Indonesia menurut kabar sudah masuk dalam tiga besar pengguna terbanyak di dunia. Uniknya, dengan makin maraknya BB, orang saat berinteraksi, kini tak lagi sekadar menanyakan berapa nomor telepon, tapi juga menanyakan, berapa nomor PIN BB-nya. Kekuatan fokus pada layanan ini terbukti menjadi nilai tambah pada produk BB yang kemudian menciptakan komunitas pemakai BB yang luar biasa jumlahnya.

Dalam analisis sesuai ajaran Sun Tzu tadi, bisa dikatakan layanan BB tersebut bukan sekadar menunjukkan kekuatan fokus, namun juga menjadi kekuatan faktor bergerak pertama. Dalam posisi ini, maka posisi BB sulit digoyang oleh pesaing. Sebab, meskipun pesaing kem

udian juga mengeluarkan layanan yang sama, sebagai yang pertama, BB tinggal memainkan kekuatan baru, misalnya dengan meluncurkan produk baru atau memberi layanan baru lainnya.

Namun, berkaca pada ajaran Sun Tzu lainnya yang menyebut bahwa: "Tidak ada yang permanen bagi setiap musim dari empat musim yang ada", maka sekuat apa pun posisi sebuah produk, jika tak waspada, akan ada perputaran zaman yang tak bisa dilawan. Karena itu, inovasi dan perbaikan dilakukan.

Jadi, lakukan terus perubahan menuju kebaikan. If better is possible, good is not enough!